Kenapa Gen Z kerja kantoran itu gampang lelah? Pertanyaan ini sering muncul ketika melihat anak muda yang baru beberapa tahun masuk dunia profesional, tetapi sudah merasa capek dengan rutinitas pekerjaan. Bangun pagi, berangkat ke kantor, menatap layar berjam-jam, mengejar target, lalu pulang dengan kepala yang masih penuh pekerjaan.
Namun, apakah benar Gen Z gampang lelah karena tidak kuat bekerja? Belum tentu. Rasa lelah di kantor bisa muncul dari banyak hal. Mulai dari beban kerja, tekanan finansial, sampai perubahan cara bekerja yang semakin cepat.
Baca Juga Artikel Ini: 4 Cara Membangun Personal Branding di Media Sosial, Bisa Mencobanya!
Gen Z Kerja Kantoran Itu Gampang Lelah?

Sebelum memberikan label “gampang lelah”, kita perlu melihat kondisi kerjanya terlebih dahulu. Survei yang Deloitte Global 2026 kasih terhadap lebih dari 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara menunjukkan bahwa generasi ini semakin mempertimbangkan stabilitas, keterampilan, dan kesejahteraan ketika menentukan arah karier. Bahkan, 50% Gen Z yang disurvei menyebut stres dan burnout sebagai salah satu hambatan dalam mengejar posisi kepemimpinan.
Jadi, persoalannya tidak sesederhana malas bekerja. Ada beberapa alasan yang membuat rutinitas kantor terasa lebih menguras energi bagi sebagian Gen Z. kamu bisa simak ulasannya di sini ya.
1. Pekerjaan yang Bisa Terus Berjalan di Kepala
Jam kerja selesai bukan berarti pikiran langsung berhenti bekerja. Pesan dari grup kantor, email, revisi, dan pekerjaan yang belum selesai bisa membuat seseorang tetap memikirkan kantor setelah tiba di rumah.
Dalam kondisi seperti ini, tubuh memang sudah beristirahat, tetapi pikiran belum tentu mendapatkan jeda.
2. Tekanan Finansial Juga akan Ikut Membebani Pikiran
Gaji pertama memang terasa menyenangkan. Namun, setelah dipotong kebutuhan sehari-hari, transportasi, tempat tinggal, tabungan, dan kebutuhan keluarga, nominal tersebut bisa terasa berbeda.
Survei dari Deloitte 2026 menemukan bahwa biaya hidup menjadi perhatian utama Gen Z dan milenial selama lima tahun berturut-turut. Sebanyak 69% Gen Z yang disurvei juga mengatakan ketersediaan atau keterjangkauan tempat tinggal memengaruhi keputusan karier dan lokasi mereka bekerja. Artinya, seseorang bisa saja sedang bekerja sambil memikirkan banyak hal lain tentang masa depan.
Baca Juga Artikel Ini: Masih Takut Buat Melangkah? Ini Arti Sebenarnya Berani Mengambil Risiko!
3. Beban Digital yang Ternyata Malah Semakin Tinggi
Laptop, aplikasi chat, email, kalender, aplikasi manajemen proyek, dan berbagai platform digital memang membuat pekerjaan lebih cepat. Masalahnya muncul ketika semuanya datang bersamaan.
Survei Deloitte 2026 mencatat 58% Gen Z yang disurvei mengalami digital fatigue akibat notifikasi terus-menerus, perpindahan antarplatform, dan banyaknya perangkat atau sistem yang digunakan. Makanya tidak heran jika setelah seharian bekerja di depan layar, seseorang masih merasa lelah meskipun pekerjaannya tidak banyak melibatkan aktivitas fisik.
4. Perubahan Teknologi Berlangsung Cepat
Dunia kerja sekarang tidak berhenti pada kemampuan yang dipelajari saat kuliah. Teknologi terus berubah. AI masuk ke berbagai pekerjaan. Cara membuat laporan berubah. Cara mencari informasi juga berubah. Bagi sebagian Gen Z dunia kerja, kondisi tersebut bisa terasa seperti harus terus belajar sambil tetap menyelesaikan pekerjaan utama.
5. Ekspektasi yang Tinggi terhadap Pekerjaan Ikut Berubah
Sebagian anak muda tidak lagi melihat pekerjaan hanya dari besarnya gaji atau jabatan. Mereka juga mempertimbangkan keseimbangan hidup, kesempatan belajar, lingkungan kerja, dan apakah pekerjaan tersebut terasa bermakna.
Deloitte menemukan hanya 25% Gen Z yang memilih jalur karier dengan promosi cepat. Sebanyak 44% lebih memilih perkembangan yang stabil, sedangkan 21% bahkan terbuka untuk berpindah secara lateral atau mengambil langkah mundur demi mendapatkan pengalaman yang sesuai. Tentu saja ini bukan berarti mereka tidak punya ambisi. Cara mereka mendefinisikan kemajuan karier memang bisa berbeda.
6. Ritme Kerja Tidak Selalu Cocok dengan Kondisi Diri
Ada hari ketika seseorang sangat produktif. Ada juga hari ketika konsentrasi terasa lebih sulit. Masalahnya, pekerjaan kantor tetap berjalan dengan target dan tenggat yang sama.
Karena itu, konsep Gen Z kerja sesuai mood sebenarnya perlu dipahami secara tepat. Bekerja sesuai kondisi diri bukan berarti mengerjakan sesuatu hanya ketika sedang ingin. Maksudnya adalah memahami kapan tubuh dan pikiran membutuhkan jeda agar produktivitas tidak terus dipaksa. Tetap ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Namun, cara mengatur energi bisa dibuat lebih sehat.
7. Ingin Berkembang, tetapi Tidak Ingin Kehabisan Diri
Ada yang membuatnya menarik, yakni Gen Z sebenarnya tidak identik dengan keinginan untuk bekerja santai. Mereka tetap ingin berkembang. Hanya saja, perkembangan tersebut diharapkan tidak selalu dibayar dengan mengorbankan kehidupan pribadi.
Deloitte mencatat 76% Gen Z yang disurvei masih tertarik mengejar posisi kepemimpinan senior pada suatu titik dalam kariernya. Namun, mereka juga melihat stres, burnout, tanggung jawab berlebihan, dan keseimbangan hidup sebagai hambatan menuju posisi tersebut.
Di sinilah tantangan Gen Z dunia kerja terlihat. Mereka ingin maju, tetapi juga ingin karier yang bisa dijalani dalam jangka panjang.
Cara Gen Z Menjaga Energi dan Produktivitas Saat Kerja
Lelah setelah bekerja sebenarnya bukan hal yang hanya dialami Gen Z. Data Gallup 2026 menunjukkan 42% pekerja global berusia di bawah 35 tahun mengalami stres yang cukup tinggi pada hari sebelumnya, sedikit di atas kelompok usia 35 tahun ke atas yang berada di angka 40%. Oleh karena itu, menjaga energi tidak harus dimulai dari perubahan besar. Beberapa kebiasaan sederhana bisa membantu.
- Pertama, tentukan pekerjaan yang benar-benar harus selesai hari itu. Jangan membuat semua tugas terlihat sama pentingnya.
- Kedua, manfaatkan jeda kerja. Lima sampai sepuluh menit tanpa menatap layar bisa terasa sederhana, tetapi membantu memberi ruang bagi pikiran.
- Ketiga, batasi pekerjaan yang terbawa sampai ke rumah jika memang tidak mendesak. Waktu setelah bekerja tetap diperlukan untuk memulihkan energi.
- Keempat, gunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber tekanan baru. AI bisa membantu pekerjaan tertentu, tetapi penggunaannya tetap perlu diatur agar tidak membuat pekerjaan justru bertambah.
- Terakhir, jangan menganggap rasa lelah sebagai tanda bahwa kamu gagal menjadi pekerja yang produktif. Kenali penyebabnya. Jika sumbernya adalah beban kerja, komunikasi dengan atasan atau tim bisa menjadi langkah yang lebih masuk akal daripada terus memaksakan diri.
Baca Juga Artikel Ini: 4 Genre Lagu yang Bikin Semangat Kerja di Spotify
Pada akhirnya, Gen Z kerja sesuai mood bukan berarti bekerja sesuka hati. Yang lebih penting adalah belajar mengenali energi, mengatur prioritas, dan tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Bagi perusahaan, memahami kondisi tersebut juga dapat membantu menciptakan lingkungan Gen Z kerja kantoran yang lebih sehat dan produktif!
No Responses